logo blog
Blog Elektronika Spot
Pastikan untuk tidak melewatkan artikel yang mungkin anda ingin simak dengan melihat :Daftar Isi
Terima kasih atas kunjungan Anda, semoga bermanfaat.

Peredam suara “duk” ketika amplifier dihidupkan

Advertisement

soft-start speaker
Suara “duk” (suara hentakan awal pada speaker) ketika sebuah audio-amplifier pertama kali dihidupkan seringkali ada dan terjadi. Ini sebenarnya bukanlah suatu tanda kerusakan, ini hal yang biasa ada pada rancangan umum amplifier terutama sistem OTL dan sebagian pada sistem OCL.  Banyak amplifier berkwalitas dari merek-merek terkenal juga seperti itu.
Semua amplifier OTL menerapkan penggunaan kondensator kopel berkapasitas besar di jalur outputnya, maka tidak bisa tidak suara hentakan awal pada speaker pasti akan ada dan pasti akan terdengar.
Sepintas tentang amplifier OTL telah dijelaskan sebelumnya dalam : Memperbaiki Amplifier OTL .

Pada rancangan amplifier sistem OCL yang lebih maju, permasalahan ini biasanya sudah diperhitungkan dan dibuat agar terjadi pada tingkat yang sangat minim bahkan nyaris tidak ada.  Tetapi pada rancangan yang berpola standar hal ini akan selalu ada dan dianggap sebagai sesuatu yang wajar-wajar saja.
Meskipun wajar, namun ada kalanya hal ini menjadi salah satu penyebab rusaknya speaker, terutama speaker berdaya rendah jika disambungkan kepada amplifier yang di luar ketentuan spesifikasinya.
Selain itu hal ini juga sering dianggap sebagai sesuatu yang mengganggu, karena itu banyak orang telah berfikir bagaimana agar suara “duk” ini ditiadakan saja sehingga akan terasa lebih nyaman ketika pertama kali menghidupkan perangkat audio-amplifier.

Cara paling mudah untuk meredam suara hentakan awal ini adalah dengan membuat sebuah rangkaian delay (penunda) penyambungan antara amplifier dengan speaker.
Penundaan penyambungan antara amplifier dengan speaker ini hanya terjadi pada saat amplifier pertama kali dihidupkan saja dan hanya berlangsung selama beberapa detik. Dengan cara seperti ini suara hentakan awal pada speaker bisa ditiadakan (tidak dimunculkan pada speaker).

Rangkaian peredam suara hentakan awal pada speaker.

soft-start speaker circuit

Daftar komponen :
R1 = 10k atau 12k (bisa dipilih)
R2 = 3k9
R3, R4 = 100Ω / 2W
C1 = 1000µF / 10V
C2 = 1000µF / 25V
D1 = 1N4002
D2 = 1N4148
D3 – D6 = 1N4002
T1 = BC547
T2 = BD139
Trf1 = 0-12V, 350mA
F1, F2 = fuse/sikring kecil 2A
Ry1 = Relay 12V coil, 8 pin.

Rangkaiannya cukup sederhana, hanya melibatkan sedikit komponen. Rangkaian menggunakan suplai 12V DC sehingga memungkinkan juga untuk diterapkan pada perangkat audio mobil atau perangkat audio yang menggunakan tegangan suplai 12V.
T1 dan T2 membentuk rangkaian darlington dengan penguatan tinggi, dimaksudkan agar pemberian arus kepada basis cukup kecil saja sehingga untuk R1 dapat menggunakan resistor dengan nilai resistansi yang besar.  Resistor bernilai Ohm besar tidak akan memerlukan kondensator (C1) yang terlalu besar untuk membentuk sirkit R-C sebagai penentu pewaktuan delay.  Di sini R1 – C1 merupakan sirkit R – C yang menentukan pewaktuan delay.  Adapun R2 berfungsi utama untuk mengosongkan muatan C1 ketika rangkaian dalam keadaan off, namun R2 juga mempengaruhi pewaktuan delay karena keberadaannya membagi tegangan acuan bagi pewaktuan delay.
Dengan nilai komponen yang disertakan pewaktuan delay akan berlangsung sekitar 3 detik, cukup untuk membiarkan suara “duk” lewat terlebih dahulu sebelum kemudian speaker disambungkan kepada output amplifier oleh relay.
Untuk memperpanjang pewaktuan delay bisa dilakukan salah satu dari beberapa cara, yaitu memperbesar R1, memperbesar C1, atau memperkecil R2.
Akan tetapi tetap ada batasannya. Memperbesar R1 atau memperkecil R2 tidak boleh terlalu ekstrim karena dapat berekses kinerja rangkaian akan menjadi tidak lagi mantap.

Relay yang digunakan adalah relay dengan kontak ganda karena asumsi bahwa rangkaian akan digunakan untuk amplifier stereo. Jika rangkaian hendak digunakan untuk amplifier mono maka dapat dipakai relay dengan kontak tunggal.
Mudah-mudahan sambungan pin relay yang diterakan pada gambar tidak menjadi masalah.
Jika ada yang belum jelas tentang sambungan pin-pin relay silahkan ikuti terlebih dahulu : Mengenal Relay .

R3 dan R4 dipasang hanya apabila rangkaian digunakan untuk amplifier OTL. R3 dan R4 berfungsi meng-ground-kan elektroda negatif dari kondensator kopel tingkat akhir amplifier OTL agar segera terisi penuh. Jika kondensator telah terisi penuh maka elektroda negatifnya akan berpotential nol Volt DC terhadap ground, dalam keadaan ini apabila kepadanya kemudian disambungkan speaker maka tidak akan lagi terdengar suara hentakan “duk”.

F1 dan F2 boleh dipasang boleh tidak, tetapi jika dipasang akan lebih baik sebagai pengaman tambahan bagi speaker.
Pada penggunaan yang berlama-lama, T2 sebaiknya diberi keping pendingin tambahan.

Untuk power-supply dapat digunakan transformator tersendiri atau dapat juga mengambil tegangan AC 12V dari bagian khusus sekunder transformator utama pada amplifier (jika ada). Transformator tertentu yang diperuntukkan untuk audio-amplifier banyak yang menyediakan tap tambahan tegangan AC 12V ini.

Sebagai bagian akhir, perlu diingatkan di sini bahwa rangkaian ini bukanlah rangkaian “speaker-protector”. Rangkaian speaker-protector yang biasa diperuntukkan bagi amplifier-amplifier OCL berdaya besar adalah bagian yang lain lagi, ulasannya mungkin akan ada di lain kesempatan.

Happy Soldering!

Enter your email address to get update from Admin .
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

5 komentar

sangat jelas mudah dipahami dan sangat berguna

Balas

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya. Mudah-mudahan bermanfaat.

Balas

bos, kalo DUJK nya di Subwoofer Aktif gimana ngatasinnya, kan keluaran dar AV receiver melalui socket Subwoofer bukan speaker, plzzzz thx

Balas

Untuk yg begitu memang rada sulit, sebab biasanya sub-woofer sudah st-by duluan sebelum sumber sinyal audio dihidupkan. Perlu dibuat rangkaian tunda khusus untuk dipasang di bagian input sub-woofer, tidak bisa menggunakan rangkaian yg dimuat di sini.
Hal yg seperti ini jarang terjadi, mungkin masalahnya karena rancangan yg kurang sempurna dari sub-woofernya atau (mungkin juga) perangkat sumber AV-nya. Sudah dicoba ditukar dengan yg lain?

Balas

Keren kang...
Terimah kasi

Balas

Silakan komentar dengan IDENTITAS YANG JELAS dan tidak menyertakan live-link atau spam.

Copyright © 2013. Elektronika Spot - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger