logo blog
Blog Elektronika Spot
Pastikan untuk tidak melewatkan artikel yang mungkin anda ingin simak dengan melihat :Daftar Isi
Terima kasih atas kunjungan Anda, semoga bermanfaat.

Mengenal Resistor

Advertisement

resistor symbol
Resistor dalam kata Indonesia disebut “tahanan”, adalah komponen/part elektronik yang mempunyai nilai resistansi listrik dan berfungsi dasar sebagai penahan/penghambat aliran arus listrik.
Ketika arus listrik dihambat oleh sebuah resistor maka arus akan berkurang pada ujung satunya dari resistor tersebut, namun efeknya akan muncul tegangan pada resistor itu, sebab berlaku hukum Ohm :

V = I x R.

V adalah tegangan (dalam Volt), I adalah arus (dalam Ampere), dan R adalah resistansi (dalam Ohm). Tentang ini telah dibahas sebelumnya dalam : Dasar-Dasar Kelistrikan .

Satuan besaran resistansi resistor adalah Ω (Ohm).
Dalam prakteknya, satuan Ohm sering dianggap sebagai satuan yang paling kecil meskipun masih ada lagi turunan satuan yang lebih kecil lainnya. Secara lengkap urutan satuan-satuan resistansi pada resistor adalah sebagai berikut :

1 MΩ (Mega Ohm) = 1000 kΩ (kilo Ohm)
1 kΩ = 1000 Ω
1 Ω = 1 mΩ (mili Ohm).

Resistor pada umumnya dibuat dari bahan karbon, karenanya resistor ini disebut resistor karbon.
Sebagian resistor lainnya dibuat dari bahan kawat resistan (resistance wire) terutama yang berkemampuan untuk dialiri arus yang besar. Kawat resistan ini dililitkan pada satu gelondong dan tertanam di dalam sebuah cetakan semen putih (gift). Semakin panjang kawat yang dililitkan maka akan semakin besar resistansinya.
Dalam tekhnik frekwensi tinggi resistor yang seperti ini hampir tidak pernah digunakan karena mengandung induktansi yang bisa berpengaruh cukup besar terhadap setelan-setelan penguatnya.
Sebagian lain dari resistor ada yang dibuat dari bahan metal-film, yaitu resistor-resistor yang mempunyai nilai toleransi yang sangat kecil.

Resistor juga mempunyai kriteria rating daya, yaitu kemampuan resistor untuk dibebani daya pada batas-batas tertentu. Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa ketika sebuah resistor bekerja menghambat arus listrik, padanya muncul tegangan.
Apabila pada resistor mengalir arus (yaitu arus yang telah dihambat oleh resistansinya) lalu padanya juga ada tegangan, maka ini berarti bahwa pada resistor tersebut telah terbebankan suatu daya listrik, sebab daya listrik itu (dalam Watt) adalah hasil perkalian antara arus dengan tegangan (W = V x I).
Seberapa besar daya maksimal yang boleh dibebankan kepadanya sudah ditetapkan pada setiap resistor oleh pabrik-pabrik pembuatnya.

Resistor seri dan resistor paralel
Ada kalanya resistor-resistor sengaja disusun/dirangkai sebagai rangkaian seri atau rangkaian paralel. Biasanya hal ini dilakukan untuk mendapatkan nilai resistor baru yang tidak terdapat pada nilai standar resistor, atau mungkin juga dilakukan untuk sekedar memperbesar daya tahan resistor agar mampu dilalui arus yang lebih besar.
Resistor yang disusun/dirangkai secara seri akan menghasilkan resistor gabungan dengan nilai resistansi gabungan secara keseluruhan sebesar :

R = R1 + R2

Contoh : R1 = 12Ω dan R2 = 68Ω dirangkai secara seri, maka nilai resistansi gabungan dari kedua resistor itu adalah R = 12 + 68 = 80Ω.

Resistor yang dirangkai secara paralel akan menghasilkan resistor gabungan dengan nilai resistansi gabungan secara keseluruhan sebesar :

R = (R1 x R2) / (R1 + R2)

Contoh : R1 = 100Ω dan R2 = 100Ω dirangkai secara paralel, maka nilai resistansi gabungan dari kedua resistor itu adalah : R = (100 x 100) / (100 + 100) = 50Ω.
Ketika dua resistor dirangkai secara paralel, arus yang melaluinya akan terbagi menjadi dua, sebagian melalui R1 dan sebagian lagi melalui R2. Dengan demikian kemampuan resistor untuk dilalui arus secara keseluruhan menjadi dua kali lipat.

Nilai-nilai standar resistor
Resistor mempunyai nilai-nilai standar yang telah ditetapkan sebagai patokan umum bagi kebanyakan resistor yang dibuat dan digunakan.
Di antara nilai-nilai standar itu adalah angka tunggal atau dua angka di depan, yaitu :

1, 12, 15, 18, 22, 27, 33, 39, 47, 56, 68, dan 82.

Angka-angka itu berlaku untuk :
-Satuan Ohm atau pecahannya, misalnya : 1Ω, 1,2Ω, 1,5Ω, 1,8Ω, 10Ω... dan seterusnya.
-Satuan kiloOhm atau pecahannya, misalnya : 1kΩ, 1,2kΩ, 1,5kΩ, 1,8Ω, 10kΩ, 12kΩ, 100kΩ, 120kΩ... dan seterusnya.
-Satuan MegaOhm atau pecahannya, misalnya : 1MΩ, 1,2MΩ, 1,5MΩ, 1,8MΩ, 10MΩ... dan seterusnya.

Konon, nilai-nilai standar ini telah mewakili semua nilai yang dibutuhkan.
Misalnya jika resistor yang dibutuhkan adalah resistor dengan nilai resistansi 5,5Ω sedangkan ini bukan nilai standar, maka bisa didapatkan dengan menyusun seri resistor 2,2Ω dengan resistor 3,3Ω.
Apabila yang dibutuhkan adalah resistor dengan nilai resistansi 5Ω, maka bisa didapatkan dengan menyusun paralel dua buah resistor 10Ω.
Apabila yang dibutuhkan adalah resistor 133kΩ, maka bisa didapatkan dengan menyusun seri resistor 100kΩ dengan resistor 33kΩ.
Selain dari angka-angka yang menjadi nilai standar seperti yang disebutkan di atas, ada juga angka-angka standar lain meskipun lebih jarang digunakan, yaitu :

11, 24, 36, 51, 62, 75, dan 91.

Contoh : Resistor 110Ω, 240kΩ, 3,6kΩ, 75Ω, 910Ω.

Arti kode warna pada resistor
Resistor karbon dan resistor metal film umumnya menggunakan kode warna untuk menyatakan nilai resistansinya dalam satuan Ohm. Kode warna itu terdapat pada gelang-gelang warna yang tertera di badan resistor.
Berikut adalah arti dari warna-warna tersebut.

Warna hitam (black) berarti angka 0
Warna cokelat (brown) berarti angka 1
Warna merah (red) berarti angka 2
Warna jingga (orange) berarti angka 3
Warna kuning (yellow) berarti angka 4
Warna hijau (green) berarti angka 5
Warna biru (blue) berarti angka 6
Warna ungu (purple) berarti angka 7
Warna abu-abu (grey) berarti angka 8
Warna putih (white) berarti angka 9
Warna emas (gold) berarti toleransi 5%
Warna perak (silver) berarti toleransi 10%.

Gelang-gelang warna secara berurutan akan membentuk nilai resistansi dalam satuan Ohm. Untuk mengetahui manakah gelang warna pertama dan manakah gelang warna yang terakhir cukup dilihat gelang warna yang berwarna emas atau perak, itulah gelang warna terakhir (toleransi).
Gelang warna ini selalu menjadi gelang warna terakhir dan berada di ujung dari resistor.
Dengan demikian maka gelang warna yang berada di ujung seberang lainnya dari resistor itu adalah gelang warna yang pertama, dari sinilah dimulai penerjemahan kode-kode warna.

kode warna resistor

Gelang warna pertama, adalah angka pertama.
Apabila gelang warna pertama adalah cokelat, maka berarti angka pertama adalah 1.
Apabila gelang warna pertama adalah merah, berarti angka pertama adalah 2, dan seterusnya...

Gelang warna kedua adalah angka kedua.
Apabila gelang warna kedua adalah jingga, maka berarti angka kedua adalah 3.
Apabila gelang warna kedua adalah hijau, berarti angka kedua adalah 5, dan seterusnya...

Gelang warna ketiga adalah banyaknya angka nol setelah dua angka sebelumnya.
Apabila gelang warna ketiga adalah cokelat, maka berarti setelah dua angka sebelumnya ditambahkan 1 angka nol.
Apabila gelang warna ketiga adalah merah, berarti setelah dua angka sebelumnya ditambahkan 2 angka nol, dan seterusnya...

Gelang warna keempat adalah toleransi penyimpangan dari nilai resistansi yang tercantum.
Apabila gelang warna keempat adalah emas, maka berarti nilai yang tercantum bisa melenceng 5% lebih besar atau 5% lebih kecil.
Apabila gelang warna keempat adalah perak, berarti nilai yang tercantum bisa melenceng 10% lebih besar atau 10% lebih kecil.

Contoh : Sebuah resistor mempunyai gelang-gelang warna kuning, ungu, kuning dan emas.
Ini berarti angka pertama adalah 4 (kuning), angka kedua adalah 7 (ungu) lalu ditambahkan angka nol sebanyak 4 (kuning), maka nilai resistansinya adalah 470000 Ω atau 470 kΩ, dengan toleransi 5%.

Pada resistor metal-film biasanya digunakan pengkodean dengan lima gelang warna, cara penerjemahannya tidak terlalu berbeda, yaitu sebagai berikut :

Gelang warna pertama adalah angka pertama
Gelang warna kedua adalah angka kedua
Gelang warna ketiga adalah angka ketiga
Gelang warna keempat adalah banyaknya angka nol setelah tiga angka sebelumnya
Gelang warna kelima adalah toleransi.
Toleransi pada resistor ini tidak menggunakan warna emas atau perak, tetapi menggunakan warna sebagaimana warna-warna untuk gelang pertama sampai keempat.
Apabila gelang warna kelima adalah cokelat, maka berarti toleransinya adalah 1%.
Apabila gelang warna kelima adalah merah, berarti toleransinya adalah 2%.

Bagi yang belum terbiasa akan merasa sulit untuk menentukan manakah gelang warna pertama dan manakah gelang warna yang terakhir (toleransi).
Cara yang paling baik adalah dengan mengetahui (hapal) nilai-nilai standar resistansi resistor.
Misalkan ada resistor dengan lima gelang warna yang pada satu ujungnya terdapat (secara berurutan) warna cokelat dan kuning, sedangkan pada ujung lainnya ada warna hijau dan biru.
Manakah gelang warna pertamanya?
Tentu saja gelang warna pertamanya adalah hijau, sebab tidak ada standar nilai resistor dengan angka 14 (cokelat-kuning) yang ada adalah standar nilai dengan angka 56 (hijau-biru).
Ini berarti bahwa warna cokelat di ujung resistor itu hanyalah nilai toleransi 1%.

Demikianlah sekilas tentang pengenalan resistor.
Resistor yang telah dibicarakan dalam pengenalan di sini adalah resistor tetap, yaitu resistor yang nilai resistansinya tidak berubah-ubah oleh suatu perubahan tertentu dan tidak dibuat untuk bisa diubah-ubah.
Sebenarnya resistor itu banyak macamnya.
Selain apa yang telah dikemukakan di sini masih ada jenis-jenis resistor lain dengan kegunaan-kegunaan yang khusus. Namun agar tulisan ini tidak menjadi terlalu panjang, resistor-resistor yang lain ini dibahas dalam satu ulasan tersendiri, yaitu : Jenis-Jenis Resistor .

Happy learning!
Enter your email address to get update from Admin .
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Silakan komentar dengan IDENTITAS YANG JELAS dan tidak menyertakan live-link atau spam.

Copyright © 2013. Elektronika Spot - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger